Pages

Tampilkan postingan dengan label Tugas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Maret 2011

Pepino - Unique Fruit

          A unique fruit which has sweet taste and looks like eggplant with many benefits is Pepino. Not only it reduces constipation and keeps our digestion healthy, but also it can keep our vision healthy and prevents lack (deficiency) of vitamin C disease.

What is Pepino?

          Pepino (Solanum muricatum Aiton) is a fruit which is still in group or family of eggplant. It’s an eggplant alike, but different in color. With shape like round of egg, the weight can reach ¼ kg. Generally, basic color of it is green with brown stripes that can change to yellow or purple and white spots with dark lines.  
         This fruit has medium sweet taste and little sour, it’s like combined blewah (kind of melon) and melon taste.

Why is Pepino good for you?

          People believe that consuming pepino can heal some diseases, Examples diabetes mellitus, high blood pressure, etc. Pepino has some benefits although it’s ripe or not. 
          High level dietary fiber in it can help digest system, prevent constipation, and bind carcinogenic substances which can trigger colon cancer in the gut.
          An average portion of pepino contains a useful amount of protein, dietary fiber, vitamin C, and Beta-Karoten. Making it a nutritious base for family dessert fruit.

How does Pepino help keep you healthy?

          Containing vitamin C, it can prevent from deficiency of vitamin C disease because it’s one of source vitamin C beside orange and mango. 
          Plant protein which contains can help keep digestion healthy and increase body resistance.
          Beta-Karoten is pro vitamin A that can change into vitamin A within our body. This vitamin is good for our vision and other metabolism. Beta-Karoten is also known as element which prevents cancer.
          Dietary fiber is important to decrease cholesterol rate. In gut, fiber will bind gall acid (result of cholesterol metabolism) and then throw out with feces. Consuming much fiber will increase gall acid and fats that can be out by our body.

Facts of Pepino (Nutrients in Pepino)
         
         Nutrients in 100 gram of Pepino according to experiment laboratory of Food Technology and Agriculture UGM, 2005 :

• Acid = 79,3308 mg                                                     • Fat = 0,0111 g
• Beta-Karoten = 26,6088 mg                                       • Dietary Fiber = 0,0779 g
• Vitamin C = 25,1194 mg                                             • Reduction Sugar = 3,3075 g
• Protein = 0,6473 g                                                      • Alcohol = 0

Storage and preserving…

• Keep it in refrigerator.
• Don’t store it in long time.

Quick ways with…

• It’s better to make fresh juice without adding sugar.
• It can be made as cocktail.
• It can be mixed in Salad.







Rabu, 13 Mei 2009

Laporan Biologi Pembuatan Telur Asin

Bioteknologi Pembuatan Tempe dan Telur Asin

I.Tujuan :
Untuk mengetahui proses pembuatan tempe dan telur asin
Untuk mengetahui peran sifat-sifat organisme dalam proses bioteknologi.

II.Masalah :
1.Bagaimana cara membuat Tempe dan Telur Asin?
2.Bagaimana peran sifat-sifat organisme dalam proses bioteknologi?

III.Dasar Teori :
    Bioteknologi adalah ilmu terapan biologi yang melibatkan mikrobiologi, biokomia dan rekayasa genetika untuk menghasilkan produk dan jasa. Dalam artian luas bioteknologi adalah teknik untuk memanfaatkan organisme hidup baik itu tanaman, hewan atau mikroorganisme(yang sering disebut mikroba) atau bagian dari organisme untuk menghasilkan barang dan jasa. Sehingga istilah bioteknologi mencakup dua pengertian sekaligus yaitu pengertian bioteknologi konvensional dan bioteknologi modern.
    Istilah bioteknologi sebetulnya sudah ada sejak ratusan tahun silam. Makanya terdapat istilah bioteknologi klasik dan bioteknologi modern. Sejarah bioteknologi klasik dikenal sejak manusia mulai memproduksi jus bergula yang difermentasi menjadi minuman beralkohol, susu asam dan roti asam diproduksi melalui fermentasi bakteri asam laktat dan khamir. Pada tahun 600-an protokol pembuatan bir dan anggur mulai disusun hingga tahun 1800-an industri bir skala besar pertama didirikan. Sampai sekarang bioteknologi klasik secara konvensional banyak diproduksi oleh masyarakat Indonesia seperti pada pembuatan tempe, susu, tahu, yoghurt, peuyeum (tape), roti, tuak, brem, arak, oncom, tauco, dadih di Sumatera Barat) dan urutan di Bali.
      Sedangkan biteknologi modern yang mulai berkembang sejak 10 tahun lalu dapat dijumpai pada istilah kloning pada mahluk hidup, transgenik (transformasi gen melalui proses modifikasi/rekayasa genetika) dan teknologi pemanfaatan bio tanaman kelapa sawit dan jarak pagar sebagai bahan pengganti BBM minyak bumi yang kini tengah dikembangkan IPB dan swasta. Pada istilah transgenik sendiri, di dalamnya “bermain” dengan istilah DeoxynboNuleic Acid (DNA) yang terdapat pada insti sel mahluk hidup.
Perkembangan bioteknologi :
1.Era bioteknologi generasi pertama Þ bioteknologi sederhana.
Penggunaan mikroba masih secara tradisional, dalam produksi makanan dan tanaman serta pengawetan makanan.
Contoh:
pembuatan tempe, tape, cuka, dan lain-lain.
2.Era bioteknologi generasi kedua.
Proses berlangsung dalam keadaan tidak steril.
Contoh:
a. produksi bahan kimia: aseton, asam sitrat
b. pengolahan air limbah
c. pembuatan kompos
3.Era bioteknologi generasi ketiga.
Proses dalam kondisi steril.
Contoh:
produksi antibiotik dan hormon
4. Era bioteknologi generasi baru dan eknologi baru.
Contoh:
produksi insulin, interferon, antibodi monoklonal
Salah satu penerapan bioteknologi konvensional adalah pembuatan tempe. Tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai atau beberapa bahan lain yang menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus, seperti Rhizopus oligosporus, Rh. oryzae, Rh. stolonifer (kapang roti), atau Rh. arrhizus. Sediaan fermentasi ini secara umum dikenal sebagai "ragi tempe".
Kapang yang tumbuh pada kedelai menghidrolisis senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana yang mudah dicerna oleh manusia. Tempe kaya akan serat pangan, kalsium, vitamin B dan zat besi. Berbagai macam kandungan dalam tempe mempunyai nilai obat, seperti antibiotika untuk menyembuhkan infeksi dan antioksidan pencegah penyakit degeneratif.
Secara umum, tempe berwarna putih karena pertumbuhan miselia kapang yang merekatkan biji-biji kedelai sehingga terbentuk tekstur yang memadat. Degradasi komponen-komponen kedelai pada fermentasi membuat tempe memiliki rasa dan aroma khas. Berbeda dengan tahu, tempe terasa agak masam.
Khasiat dan Kandungan Gizi Tempe
Tempe berpotensi untuk digunakan melawan radikal bebas, sehingga dapat menghambat proses penuaan dan mencegah terjadinya penyakit degeneratif (aterosklerosis, jantung koroner, diabetes melitus, kanker, dan lain-lain). Selain itu tempe juga mengandung zat antibakteri penyebab diare, penurun kolesterol darah, pencegah penyakit jantung, hipertensi, dan lain-lain.
Komposisi gizi tempe baik kadar protein, lemak, dan karbohidratnya tidak banyak berubah dibandingkan dengan kedelai. Namun, karena adanya enzim pencernaan yang dihasilkan oleh kapang tempe, maka protein, lemak, dan karbohidrat pada tempe menjadi lebih mudah dicerna di dalam tubuh dibandingkan yang terdapat dalam kedelai. Oleh karena itu, tempe sangat baik untuk diberikan kepada segala kelompok umur (dari bayi hingga lansia), sehingga bisa disebut sebagai makanan semua umur.
Dibandingkan dengan kedelai, terjadi beberapa hal yang menguntungkan pada tempe. Secara kimiawi hal ini bisa dilihat dari meningkatnya kadar padatan terlarut, nitrogen terlarut, asam amino bebas, asam lemak bebas, nilai cerna, nilai efisiensi protein, serta skor proteinnya.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa zat gizi tempe lebih mudah dicerna, diserap, dan dimanfaatkan tubuh dibandingkan dengan yang ada dalam kedelai. Ini telah dibuktikan pada bayi dan anak balita penderita gizi buruk dan diare kronis.
Dengan pemberian tempe, pertumbuhan berat badan penderita gizi buruk akan meningkat dan diare menjadi sembuh dalam waktu singkat. Pengolahan kedelai menjadi tempe akan menurunkan kadar raffinosa dan stakiosa, yaitu suatu senyawa penyebab timbulnya gejala flatulensi (kembung perut).
Mutu gizi tempe yang tinggi memungkinkan penambahan tempe untuk meningkatkan mutu serealia dan umbi-umbian. Hidangan makanan sehari-hari yang terdiri dari nasi, jagung, atau tiwul akan meningkat mutu gizinya bila ditambah tempe.
Sepotong tempe goreng (50 gram) sudah cukup untuk meningkatkan mutu gizi 200 g nasi. Bahan makanan campuran beras-tempe, jagung-tempe, gaplek-tempe, dalam perbandingan 7:3, sudah cukup baik untuk diberikan kepada anak balita.
Asam Lemak
Selama proses fermentasi tempe, terdapat tendensi adanya peningkatan derajat ketidakjenuhan terhadap lemak. Dengan demikian, asam lemak tidak jenuh majemuk (polyunsaturated fatty acids, PUFA) meningkat jumlahnya.
Dalam proses itu asam palmitat dan asam linoleat sedikit mengalami penurunan, sedangkan kenaikan terjadi pada asam oleat dan linolenat (asam linolenat tidak terdapat pada kedelai). Asam lemak tidak jenuh mempunyai efek penurunan terhadap kandungan kolesterol serum, sehingga dapat menetralkan efek negatif sterol di dalam tubuh.
Vitamin
Dua kelompok vitamin terdapat pada tempe, yaitu larut air (vitamin B kompleks) dan larut lemak (vitamin A, D, E, dan K). Tempe merupakan sumber vitamin B yang sangat potensial. Jenis vitamin yang terkandung dalam tempe antara lain vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), asam pantotenat, asam nikotinat (niasin), vitamin B6 (piridoksin), dan B12 (sianokobalamin).
Vitamin B12 umumnya terdapat pada produk-produk hewani dan tidak dijumpai pada makanan nabati (sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian), namun tempe mengandung vitamin B12 sehingga tempe menjadi satu-satunya sumber vitamin yang potensial dari bahan pangan nabati. Kenaikan kadar vitamin B12 paling mencolok pada pembuatan tempe; vitamin B12 aktivitasnya meningkat sampai 33 kali selama fermentasi dari kedelai, riboflavin naik sekitar 8-47 kali, piridoksin 4-14 kali, niasin 2-5 kali, biotin 2-3 kali, asam folat 4-5 kali, dan asam pantotenat 2 kali lipat. Vitamin ini tidak diproduksi oleh kapang tempe, tetapi oleh bakteri kontaminan seperti Klebsiella pneumoniae dan Citrobacter freundii.
Kadar vitamin B12 dalam tempe berkisar antara 1,5 sampai 6,3 mikrogram per 100 gram tempe kering. Jumlah ini telah dapat mencukupi kebutuhan vitamin B12 seseorang per hari. Dengan adanya vitamin B12 pada tempe, para vegetarian tidak perlu merasa khawatir akan kekurangan vitamin B12, sepanjang mereka melibatkan tempe dalam menu hariannya.
Mineral
Tempe mengandung mineral makro dan mikro dalam jumlah yang cukup. Jumlah mineral besi, tembaga, dan zink berturut-turut adalah 9,39; 2,87; dan 8,05 mg setiap 100 g tempe.
Kapang tempe dapat menghasilkan enzim fitase yang akan menguraikan asam fitat (yang mengikat beberapa mineral) menjadi fosfor dan inositol. Dengan terurainya asam fitat, mineral-mineral tertentu (seperti besi, kalsium, magnesium, dan zink) menjadi lebih tersedia untuk dimanfaatkan tubuh.
Antioksidan
Di dalam tempe juga ditemukan suatu zat antioksidan dalam bentuk isoflavon. Seperti halnya vitamin C, E, dan karotenoid, isoflavon juga merupakan antioksidan yang sangat dibutuhkan tubuh untuk menghentikan reaksi pembentukan radikal bebas.
Dalam kedelai terdapat tiga jenis isoflavon, yaitu daidzein, glisitein, dan genistein. Pada tempe, di samping ketiga jenis isoflavon tersebut juga terdapat antioksidan faktor II (6,7,4-trihidroksi isoflavon) yang mempunyai sifat antioksidan paling kuat dibandingkan dengan isoflavon dalam kedelai. Antioksidan ini disintesis pada saat terjadinya proses fermentasi kedelai menjadi tempe oleh bakteri Micrococcus luteus dan Coreyne bacterium.
Penuaan (aging) dapat dihambat bila dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari mengandung antioksidan yang cukup. Karena tempe merupakan sumber antioksidan yang baik, konsumsinya dalam jumlah cukup secara teratur dapat mencegah terjadinya proses penuaan dini.
Penelitian yang dilakukan di Universitas North Carolina, Amerika Serikat, menemukan bahwa genestein dan fitoestrogen yang terdapat pada tempe ternyata dapat mencegah kanker prostat dan payudara.

Telur asin
Telur asin adalah istilah umum untuk masakan berbahan dasar telur yang diawetkan dengan cara diasinkan (diberikan garam berlebih untuk menonaktifkan enzim perombak). Kebanyakan telur yang diasinkan adalah telur itik, meski tidak menutup kemungkinan untuk telur-telur yang lain. Masa kadaluwarsa telur asin bisa mencapai satu bulan (30 hari).
Panganan ini bersifat praktis dan dapat dipadukan dengan berbagai masakan misalnya nasi jamblang, dan nasi lengko, bahkan dapat pula dimakan tanpa nasi. Nelayan yang melaut atau orang yang bepergian untuk waktu lama biasa membawa telur asin untuk bekal.
Di Jawa Tengah, daerah Brebes dikenal sebagai penghasil utama telur asin. Industri telur asin di Brebes cukup meluas hingga tersedia berbagai pilihan kualitas telur asin. Masing-masing produsen memiliki cap sendiri-sendiri yang biasanya dapat dilihat pada kulit telur. Walaupun selera orang berbeda-beda, telur asin yang dinilai berkualitas tinggi memiliki ciri-ciri bagian kuning telur berwarna jingga terang hingga kemerahan, "kering" (jika digigit tidak mengeluarkan cairan), tidak menimbulkan bau amis, dan rasa asin tidak menyengat.
Sejak zaman dulu masyarakat kita telah mengenal pengasinan sebagai salah satu upaya untuk mengawetkan telur (memperpanjang masa simpan), membuang rasa amis (terutama telur itik), dan menciptakan rasa yang khas.
Berdasarkan proses pengolahannya, telur asin dapat dibuat dengan cara merendam dalam larutan garam jenuh atau menggunakan adonannya. Adonan garam merupakan campuran antara garam, abu gosok, serbuk bata merah, dan kadang-kadang sedikit kapur.
Pembuatan telur asin dengan cara merendam dalam larutan garam jenuh sangat mudah dan praktis. Mula-mula telur diamplas untuk membuka pori-pori kulitnya, sehingga pada saat perendaman akan mudah menyerap garam.
Larutan garam disiapkan dengan cara mencampur air dan garam dapur sampai jenuh. Artinya, air tidak mampu lagi melarutkan garam. Keunggulan pembuatan telur asin dengan cara ini adalah prosesnya lebih singkat, meski kualitas telur asin yang dihasilkan kurang bagus.
Cara pembuatan dengan menggunakan adonan garam akan menghasilkan telur asin yang jauh lebih bagus mutunya, warna lebih menarik, serta cita rasa yang lebih enak, tapi prosesnya lebih rumit. Garam berfungsi sebagai pencipta rasa asin dan sekaligus bahan pengawet karena dapat mengurangi kelarutan oksigen (oksigen diperlukan oleh bakteri), menghambat kerja enzim proteolitik (enzim perusak protein), dan menyerap air dari dalam telur.
Berkurangnya kadar air menyebabkan telur menjadi lebih awet. Garam (NaCl) akan masuk ke dalam telur dengan cara merembes melalui pori-pori kulit, menuju ke bagian putih, dan akhirnya ke kuning telur. Garam NaCl mula-mula akan diubah menjadi ion natrium (Na+) dan ion chlor (Cl-). Ion chlor inilah yang sebenarnya berfungsi sebagai bahan pengawet, dengan menghambat pertumbuhan mikroba pada telur.
Makin lama dibungkus dengan adonan, makin banyak garam yang merembes masuk ke dalamnya, sehingga telur menjadi semakin awet dan asin. Lamanya telur dibungkus adonan ini harus disesuaikan dengan selera masyarakat yang akan mengonsumsinya.
Nilai Gizi
Sebagai bahan makanan, telur mempunyai beberapa kelebihan. Telur mengandung semua zat gizi yang diperlukan tubuh, rasanya enak, mudah dicerna, menimbulkan rasa segar dan kuat pada tubuh, serta dapat diolah menjadi berbagai macam produk makanan.

Dalam telur itik, protein lebih banyak terdapat pada bagian kuning telur, 17 persen, sedangkan bagian putihnya 11 persen. Protein telur terdiri dari ovalbumin (putih telur) dan ovavitelin (kuning telur). Protein telur mengandung semua asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh untuk hidup sehat.
Pada suatu penelitian dengan menggunakan tikus percobaan, diketahui bahwa telur mempunyai nilai kegunaan protein (net protein utilization) 100 persen, bandingkan dengan daging ayam (80%) dan susu (75%). Berarti jumlah dan komposisi asam aminonya sangat lengkap dan berimbang, sehingga hampir seluruh bagiannya dapat digunakan untuk pertumbuhan maupun penggantian sel-sel yang rusak.
Hampir semua lemak dalam sebutir telur itik terdapat pada bagian kuningnya, mencapai 35 persen, sedangkan di bagian putihnya tidak ada sama sekali. Lemak pada telur terdiri dari trigliserida (lemak netral), fosfolipida (umumnya berupa lesitin), dan kolesterol.
Fungsi trigliserida dan fosfolipida bagi tubuh adalah sebagai sumber energi, satu gram lemak menghasilkan 9 kilokalori energi. Lemak dalam telur berbentuk emulsi (bergabung dengan air), sehingga menjadi lebih mudah dicerna, baik oleh bayi, anak-anak, maupun golongan lanjut usia.
Cara Menyimpan dan Menilai Mutu
Secara umum, telur asin (baik yang masih mentah maupun sudah direbus) mempunyai daya awet yang tinggi, sehingga dapat disimpan pada suhu kamar. Walaupun demikian, akan lebih baik jika penyimpanan telur asin dilakukan pada suhu 12-15oC dan kelembaban udara 70-80%.
Dalam skala rumah tangga, penyimpanan telur dapat dilakukan di dalam lemari es. Untuk mencegah kerusakan, memperlambat hilangnya kelembaban, dan mencegah terserapnya bau tajam dari makanan, saat menyimpan di lemari es sebaiknya telur asin dibungkus dengan wadah karton.
Penilaian terhadap mutu telur asin dapat dilakukan dengan menggunakan parameter berikut:
- Telur asin stabil sifatnya, artinya dapat disimpan lama tanpa mengalami kerusakan. Semakin banyak garam yang digunakan dan semakin lama waktu pengasinan, telur akan semakin awet dan asin. Setiap orang mempunyai selera yang berbeda mengenai rasa asin ini. Karena itu, penggunaan garam dan waktu pengasinan sebaiknya dibatasi, sampai taraf yang enak dinikmati oleh lidah konsumen.
- Aroma dan rasanya enak. Telur asin yang baik akan bebas dari rasa amis, pahit, bau amoniak, bau busuk, serta rasa dan bau lainnya yang tidak diharapkan.
- Telur asin yang baik hanya mengandung minyak di bagian pinggirnya saja.
- Apabila campuran adonan garam yang digunakan tidak sempurna, yang dihasilkan adalah putih telur yang berwarna kebiruan. Bila ke dalam adonan ditambahkan sedikit kapur, putih telur akan berwarna kekuningan.
- Letak kuning telur yang dikehendaki adalah di tengah-tengah. Apabila bergeser, kemungkinan penyebabnya adalah telur segar yang digunakan sudah rusak atau peletakan telur dalam tempayan tidak tepat. Sebaiknya telur diletakkan dengan bagian tumpulnya menghadap ke atas. (Prof. DR. Ir. Made Astawan, MS. Guru Besar Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi IPB)

IV.Alat dan Bahan
  Alat :
Plastik
Baskom
Nampan plastik
Sendok
Palu
Saringan
Tusuk gigi
Bahan :
½ kg Kedelai
Ragi Tempe secukupnya
5 butir Telur Bebek
1/6 kg Garam
½ kg Batu Bata

V.Langkah Kerja :
A.Pembuatan Tempe
1.Merebus kacang kedelai
2.Membuang kulit arinya
3.Merendam kacang kedelai yang telah direbus selama 12 jam
4.Mengangin-anginkan kacang kedelai yang telah dikupas dan direndam
5.Mencampur kacang kedelai yang telah diolah dengan ragi tempe
6.Membungkus kedelai yang telah diberi ragi ke dalam plastic yang telah dilubangi dengan tusuk gigi
7.Menyimpan kedelai yang telah dibungkus plastik di dalam lemari
B.Pembuatan Telur Asin
1.Mencuci telur bebek
2.Mencampur garam ke dalam batu bata yang telah dihancurkan dan disaring dengan perbandingan 1:3, kemudian diberi sedikit air
3.Membungkus telur bebek dengan campuran batu bata dan garam
4.Menyimpan telur yang telah dibungkus di dalam lemari selama 7 hari


VI.Data :
Pembuatan Tempe
Pada hari pertama, tempe masih belum terjadi perubahan, dan sorenya agak mengeras dan menyatu.
Pada hari kedua mulai terlihat hifa, dan lebih mengeras, sorenya tempe telah jadi dan siap diolah lebih lanjut(dikonsumsi)

Pembuatan Telur Asin
Pada hari pertama telur bebek masih belum ada perubahan.
Telur asin yang sudah dibaluti dengan adonan batu bata dan garam dibiarkan selama 7 hari. Setelah itu dibersihkan dan direbus, ternyata jadi terasa asin dan di sekitar kuning telur menjadi berminyak. Tetapi putih telur lebih terasa asin, karena balutan adonan lebih dekat dengan putih telur, sehingga garam yang ada lebih banyak yang meresap pada putih telur. Telur bebek tidak membusuk karena adanya garam yang menghambat pertumbuhan enzim.

VII.Diskusi / pertanyaan :
1.Hal apakah yang membedakan proses pembuatan tempe dan proses pembuatan telur asin?
Pembuatan tempe merupakan bioteknologi konvensional yang membutuhkan mikroorganisme dalam proses pembuatannya.
Sedangkan pembuatan telur asin bukan merupakan bioteknologi
2.Bagaimana cara kacang kedelai bisa berubah menjadi tempe?
Karena kedelai yang dicampur dengan ragi (fermentasi), sehingga akan menimbulkan tumbuhnya kapang. Kapang yang tumbuh pada kedelai menghidrolisis senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana yang mudah dicerna oleh manusia. Dan adanya pertumbuhan miselia kapang yang merekatkan biji-biji kedelai sehingga terbentuk tekstur yang memadat. Sehingga terbentuklah tempe.

3.Bagaimana telur bebek bisa menjadi asin?
Dengan cara membungkus telur bebek dengan adonan batu bata dan garam. Sehingga garam (NaCl) akan masuk ke dalam telur dengan cara merembes melalui pori-pori kulit (peristiwa osmosis yaitu dari konsentrasi tinggi ke rendah melalui selaput permieabel yaitu kulit dan membrane telur), menuju ke bagian putih, dan akhirnya ke kuning telur. Garam NaCl mula-mula akan diubah menjadi ion natrium (Na+) dan ion chlor (Cl-). Ion chlor inilah yang sebenarnya berfungsi sebagai bahan pengawet, dengan menghambat pertumbuhan mikroba pada telur. Makin lama dibungkus dengan adonan, makin banyak garam yang merembes masuk ke dalamnya, sehingga telur menjadi semakin awet dan asin.
4.Proses mana yang merupakan penerapan bioteknologi?
Proses pembuatan tempe, karena membutuhkan bantuan mikroorganisme yaitu jamur Rhizopus oryzae /ragi tempe (penerapan dalam bioteknologi konvensional)

 Peran dan sifat-sifat organisme dalam proses bioteknologi.
 Mikroorganisme merupakan jasad hidup yang mempunyai ukuran sangat kecil (Kusnadi, dkk, 2003). Setiap sel tunggal mikroorganisme memiliki kemampuan untuk melangsungkan aktivitas kehidupan antara lain dapat dapat mengalami pertumbuhan, menghasilkan energi dan bereproduksi dengan sendirinya. Mikroorganisme memiliki fleksibilitas metabolisme yang tinggi karena mikroorganisme ini harus mempunyai kemampuan menyesuaikan diri yang besar sehingga apabila ada interaksi yang tinggi dengan lingkungan menyebabkan terjadinya konversi zat yang tinggi pula. Akan tetapi karena ukurannya yang kecil, maka tidak ada tempat untuk menyimpan enzim-enzim yang telah dihasilkan. Dengan demikian enzim yang tidak diperlukan tidak akan disimpan dalam bentuk persediaan.enzim-enzim tertentu yang diperlukan untuk perngolahan bahan makanan akan diproduksi bila bahan makanan tersebut sudah ada.

Mikroorganisme ini juga tidak memerlukan tembat yang besar, mudah ditumbuhkan dalam media buatan, dan tingkat pembiakannya relative cepat (Darkuni, 2001). Oleh karena aktivitasnya tersebut, maka setiap mikroorganisme memiliki peranan dalam kehidupan, baik yang merugikan maupun yang menguntungkan.
Proses klasik menggunakan mikroorganisme
Di Jepang dan Indonesia sudah sejak zaman dahulu kacang kedelai diolah dengan menggunakan bantuan fungi, ragi, dan bakteri asam laktat. Bahkan sudah sejak zaman perang dunia pertama fermentasi terarah dengan ragi digunakan untuk membuat gliserin. Asam laktat dan asam sitrat dalam jumlah besar yang diperlukan oleh industri makanan, masing-masing dibuat dengan pertolongan bakteri asam laktat dan cendawan Aspergillus niger
Proses menggunakan mikroba
Fermentasi klasik telah diganti dengan cara baru untuk produksi dan konversi menggunakan mikroba. Senyawa karotenoid dan steroid diperoleh dari fungi. Sejak ditemukan bahwa Corynebacterium glutamicum memproduksi glutamat dengan rendemen tinggi dari gula dan garam amonium, maka telah diisolasi berbagai mutan dan dikembangkan proses baru yang memungkinkan pembuatan banyak jenis asam amino, nukleotida, dan senyawabiokimia lain dalam jumlah besar. Mikroorganisme juga diikutsertakan oleh para ahli kimia pada katalisis sebagian proses dalam rangkaian sintesis yang panjang; biokonversi oleh mikroba lebih spesifik dengan rendemen lebih tinggi, mengungguli koversi secara kimia; amilase untuk hidrolisis pati, proteinase pada pengolahan kulit, pektinase untuk penjernihan sari buah dan enzim-enzim lain yang digunakan di industri diperoleh dari biakan mikroorganisme.
Pengolahan kacang kedelai di beberapa negara banyak yang menggunakan bantuan fungi, ragi, dan bakteri bakteri asam laktat. Bahkan asam laktat dan asam sitrat yang dalam jumlah besar diperlukan oleh industri bahan makanan masing-masing dibuat dengan bantuan asam laktat dan Aspergillus niger (Darkuni, 2001). Beberqapa kelompok mikroorganisme dapat digunakan sebagai indikator kualitas makanan. Mikroorganisme ini merupakan kelompok bakteri yang keberadaannya di makanan di atas batasan jumlah tertentu, yang dapat menjadi indikator suatu kondisi yang terekspos yang dapat mengintroduksi organisme hazardous (berbahaya) dan menyebabkan proliferasi spesies patogen ataupun toksigen. Misalnya E. coli tipe I, coliform dan fekal streptococci digunakan sebagai indikator penanganan pangan secara tidak higinis, termasuk keberadaan patogen tertentu. Mikroorganisme indikator ini sering digunakan sebagai indaktor kualitas mikrobiologi pada pangan dan air.

VIII. Kesimpulan :
Yang membedakan proses pembuatan telur asin dan tempe yaitu adanya peranan mikroorganisme
Proses pembuatan tempe merupakan bioteknologi konvensional karena dalam proses pembuatannya memerlukan mikroorganisme yaitu ragi tempe
Telur asin bukan merupakan bioteknologi karena dalam proses pembuatannya tidak memerlukan mikroorganisme melainkan terjadinya proses osmosis (meresapnya larutan garam ke dalam telur bebek melalui selaput semipermieabel)
Mikroorganisme memiliki banyak peranan dalam kehidupan, baik peranan yang menguntungkan maupun peranan yang merugikan. Salah satu peranannya yang menguntungkan adalah peranannya dalam proses pembuatan tempe.






Sabtu, 23 Agustus 2008

Pengaruh Konsentrasi Substrat Terhadap Aktivitas Enzim

PENGARUH KONSENTRASI SUBSTRAT TERHADAP
AKTIVITAS ENZIM
Latar Belakang
Enzim merupakan substansi penting dalam setiap reaksi pada makhluk hidup. Orang pertama yang menemukan substansi ini adalah Eduard dan Hans Buchner. Mereka mengadakan percobaan denagn menggunakan ekstrak sel-sel ragi yang ternyata dapat mempercepat proses fermentasi. Berdasarkan percobaan ini, muncul istilah enzim yang berasal dari kata Yunani zyme yang berarti ragi. Enzim merupakan katalisator di dalam reaksi sel makhluk hidup sehingga enzim sering disebut biokatalisator. Enzim sendiri tidak ikut bereaksi. Sedangkan tempat enzim bekerja disebut substrat.
Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh jumlah atau konsentrasi substrat terhadap aktivitas enzim katalase.
Rumusan masalah
Bagaimanakah pengaruh jumlah atau konsentrasi substrat terhadap aktivitas enzim katalase ?
Hipotesis
Konsenstrasi hidrogen peroksida (H2O2) akan berpengaruh dalam kecepatan kerja enzim. Semakin tinggi jumlah konsenstrasi (H2O2), maka semakin cepat terjadi reaksi.
Variabel
Variabel bebas : jumlah hidrogen peroksida dan aquades
Variabel terikat : kecepatan reaksi yang salah satu indikatornya yaitu perbedaan
ketinggian sebelum dan sesudah reaksi,dan lamanya waktu
Variabel kontrol : hati ayam sebagai enzim
Alat
  • 5 tabung reaksi dan rak tabung reaksi
  • Mistar
  • Pipet ukur 10 ml dengan penyedotnya
  • Pena marker (Spidol)
  • Kertas label
  • Cutter
  • Timbangan digital
  • Alat tulis
  • Stopwatch
Bahan
  • Aquades
  • Hidrogen peroksida (H2O2)
  • Hati ayam
Langkah kerja
  1. Siapkan lima tabung reaksi yang diberi label 1 sampai 5
  2. Ambil hidrogen peroksida dan aquades ke dalam tabung reaksi denagn volume sebagai berikut:
Tabung reaksi
Volume (ml)
H2O2
Aquades
1
0
10
2
2,5
7,5
3
5,0
5,0
4
7,5
2,5
5
10
0
     3. Aduk larutan pada tiap-tiap tabung reaksi
     4. Sementara ada beberapa praktikan yang menyiapkan 5 potong hati ayam dengan berat masing-masing 10 mg, ditimbang dengan menggunakan timbangan digital.
     5. Masukkan masing-masing potongan hati ayam ke dalam tabung reaksi. Tandai ketinggian awal permukaan larutan dengan menggunakan pena marker (spidol)
     6. Setelah 5 menit, ukur ketinggian gelembung oksigen yang terbentuk di dalam tabung reaksi. Jika gelembung oksigen pada salah satu tabung reaksi sudah mencapai salah satu mulut tabung sebelum 5 menit, maka ukur ketinggian gelembung pada semua tabung reaksi. (Ketinggian gelembung oksigen diukur mulai dari batas awal tanda marker sampai batas teratas gelembung oksigen).
     7. Catat data yang kamu peroleh pada tabel.
     8. Buatlah suatu grafik sebagai hubungan aktivitas enzim menggunakan ketinggian gelembung oksigen dengan konsenstrasi hidrogen peroksida.
Data
Tabung Reaksi
Ketinggian
Ada tidaknya gelembung
Banyaknya Gelembung
Waktu
Awal
Akhir
1
7
7
-
-
-
2
7
8
Ada
+
1’ 39’’
3
7
13
Ada
++
52’’
4
7
Melebihi tabung
Ada
+++
14’’
5
7
Melebihi tabung
Ada
++++
7’’

Konsentrasi H2O2
Analisis Data
  1. Tabung reaksi 1,yaitu pada 10 ml aquades. Tidak terjadi reaksi apapun. Tidak muncul gelembung dan tidak adanya perubahan ketinggian.
  2. Tabung reaksi 2, yaitu pada 7,5 ml aquades dan 2,5 ml hidrogen peroksida, terjadi reaksi walaupun berjalan lambat. Hal ini dapat dilihat dengan munculnya sedikit gelembung dan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik tertinggi (8 cm) yaitu 1 menit 39 detik.
  3. Tabung reaksi 3, yaitu 5,0 aquades dan 50 ml hidrogen peroksida, terjadi reaksi yang lebih cepat di banding pada tabung reaksi 2. Hal ini dikarenakan dalam waktu 52 detik muncul gelembung dengan ketinggian mencapai 13 cm.
  4. Tabung reaksi 4, yaitu 2,5 ml aquades dan 7,5 ml hidrogen peroksida, terjadi reaksi yang cepat karena gelembung sudan melebihi mulut tabung reaksi pada detik ke-14.
  5. Tabung reaksi yang ke-5, yaitu 10 ml hidrogen peroksida, terjadi reaksi yang sangat cepat, karena gelembung melebihi mulut tabung reaksi hanya dalam 7 detik
Pembahasan
  1. Dari data di atas, dapat kita lihat bahwa air murni (aquades) tidak berpengaruh terhadap kerja enzim. Hal ini dapat dilihat pada tabung reaksi 1, yaitu tidak adanya gelembung sama sekali dan tak ada perubahan ketinggian sebelum dan sesudah pemberian hati ayam.
  2. Pada tabung reaksi 2, yaitu campuran 7,5 ml aquades dan 2,5 ml hidrogen peroksida sudah mulai terjadi kerja enzim. Meskipun hanya muncul sedikit gelembung dan perubahan ketinggian yang tidak terlalu besar. Tetapi hal ini menunjukkan bahwa jika konsentrasi substranya sedikit, maka kecepatan kerja enzim juga rendah.
  3. Sedangkan pada tabung reaksi 5, yaitu pada 10 ml hidrogen peroksida. Muncul gelembung yang sangat banyak bahkan melebihi ketinggian tabung reaksi dan dalam waktu yang relatif singkat. Hal ini menunjukkan bahwa jika jumlah substrat yang tersedia banyak, maka kerja enzim juga cepat.
Kesimpulan
  1. Pada 10 ml aquades tidak terjadi reaksi sama sekali ( karena tak ada substrat)
  2. Pada 10 ml hidrogen peroksida, reaksi enzim sangat cepat
  3. Hati ayam berperan sebagai enzim, sedangkan hidrogen peroksida sebagai substratnya (bahan tempat enzim bekerja).
  4. Jumlah atau konsentrasi substrat berpengaruh terhadap mekanisme kerja enzim
  5. Jika jumlah substratnya sedikit, kerja enzim juga rendah. Sebaliknya, jika jumlah substrat yang tersedia banyak, semakin cepat pula kerja enzim tersebut.
Diskusi
Pertanyaan :
  1. Dari manakah sumber katalase pada percobaan ini ?
  2. Analisa data yang kamu peroleh dari percobaan dan buatlah suatu kesimpulan
  3. Bagaimana sifat enzim ?
  4. Bagaimana cara kerja enzim ?
  5. Bagaimana komponen-komponen penyusun enzim ?
  6. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja enzim ?
Jawaban :
1.   Sumber katalase pada percobaan ini yaitu hati ayam dan substratnya yaitu hidrogen peroksida (H2O2)
2.    - Dari data di atas, dapat kita lihat bahwa pada air murni (aquades) tidak ada gelembung sama sekali dan tak ada perubahan ketinggian sebelum dan sesudah pemberian hati ayam
- Campuran 7,5 ml aquades dan 2,5 ml hidrogen peroksida sudah mulai terjadi kerja enzim. Meskipun hanya muncul sedikit gelembung dan perubahan ketinggian yang tidak terlalu besar
- Pada 10 ml hidrogen peroksida, muncul gelembung yang sangat banyak bahkan melebihi ketinggian tabung reaksi dan dalam waktu yang relatif singkat.
Jadi, mekanisme kerja enzim juga ditentukan oleh jumlah atau konsentrasi substrat yang tersedia.Jika jumlah substratnya sedikit, kerja enzim juga rendah. Sebaliknya, jika jumlah substrat yang tersedia banyak, kerja enzim juga cepat.
  3. Sifat-sifat enzim antara lain :
– Enzim adalah biokatalisator artinya, enzim dapat mempercepat suatu reaksi tanpa ikut mengalami perubahan
- Dapat bekerja bolak-balik artinya, enzim dapat bekerja menguraikan suatu senyawa menjadi senyawa-senyawa lain dan begitu pula sebaliknya.
- Diperlukan dalam jumlah sedikit
- Enzim adalah suatu protein sehingga mempunyai sifat menggumpal pada suhu tinggi dan terpengaruh oleh pH
- Rusak oleh panas (denaturasi)
- Kerja enzim dipengaruhi oleh lingkungan (suhu, pH, hasil akhir dan zat penghambat/ inhibitor)
4. Ada 2 teori mengenai kerja enzim
Teori gembok anak kunci (Lock and key)
Substrat masuk ke dalam sisi aktif enzim. Jadi, sisi aktif enzim seolah-olah kunci dan substratnya adalah anak kunci. .Hal itu menyebabkan enzim bekerja secara spesifik .Jika enzim mengalami denaturasi (rusak) karena panas, bentuk sisi aktif berubah sehingga substrat tidak sesuai lagi. Perubahan pH juga mempunyai pengaruh yang sama
Teori induced fit
Menurut teori ini, sisi aktif enzim lebih fleksibel dalam menyesuaikan struktur substrat. Ikatan antara enzim dan susbstrat dapat berubah menyesuaikan substrat.
5. Enzim yang lengkap (holoenzim) tersusun atas dua bagian, yaitu bagian protein dan bagian bukan protein.
- Bagian protein disebut apoenzim. Bagian protein bersifat labil (mudah berubah), misalnya terpengaruh suhu dan keasaman
- Bagian yang bukan protein disebut gugus prostetik yaitu gugusan yang aktif. Gugus prostetik yang berasal dari molekul anorganik disebut kofaktor misalnya besi, tembaga, seng. Gugus prostetik yang terdiri dari senyawa organik kompleks disebut koenzim misalnya NADH, FADH, koenzim A, dan vitamin B.
6. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja enzim antara lain :
Suhu
Enzim dapat dapat bekerja optimum pada kisaran suhu tertentu, yaitu sekitar suhu 40° C. Pada suhu 0° C, enzim tidak aktif. Jika suhunya dinaikkan, enzim akan mulai aktif. Jika suhunya dinaikkan lebih tinggi lagi sampai batas sekitar 40-50°C, enzim akan bekerja lebih aktif lagi. Namun, pemanasan lebih lanjut membuat enzim akan terurai atau terdenaturasi seperti halnya protein lain. Pada keadaan ini enzim tidak dapat bekerja.
Derajat keasaman (pH)
Enzim bekerja pada pH tertentu, umumnya pada pH netral, kecuali pada beberapa jenis enzim yang bekerja pada suasana asam atau basa. Jika enzim yang bekerja optimum pada suasana netral ditempatkan pada suasana basa ataupun asam, enzim tersebut tidak akan bekerja atau bahkan akan rusak.
Feed Back Inhibitor
Feed back inhibitor adalah keadaan pada saat substansi hasil (produk) kerja enzim yang terakumulasi dalam jumlah berlebihan akan menghambat kerja enzim yang bersangkutan.
Konsentrasi substrat
Mekanisme kerja enzim juga ditentukan oleh jumlah atau konsentrasi substrat yang tersedia. Jika jumlah substratnya sedikit, kerja enzim juga rendah. Sebaliknya, jika jumlah substrat yang tersedia banyak, kerja enzim juga
Konsentrasi enzim itu sendiri
Konsentrasi enzim itu sendiri ikut mempengaruhi kecepatan reaksi enzim. Sampai batas tertentu, semakin banyak enzim yang tersedia semakin cepat pula kerja enzim tersebut.
Kadar air
Contoh yang sangat jelas adalah enzim yang mengalami pengaktifan pada saat perkecambahan biji, jika biji tersebut telah terendam di dalam air dalam waktu yang relatif lama. Hal ini membuktikan bahwa aktifitas enzim dipengaruhi oleh kadar enzim.
Pengaruh zat penggiat dan zat penghambat
Logam-logam yang menggiatkan kerja enzim diantaranya adalah nikel, magnesium, mangan, klorin, dan kobalt. Sedangkan logam-logam yang dapat menghambat kerja enzim diantaranya adalah garam-garam dari logam berat, misalnya air raksa. Enzim terkenal seperti asetilkonesterase dapat dihambat oleh senyawa diisopropil-flouro- fosfat (DFP).
DAFTAR PUSTAKA
Syamsuri, Istamar,dkk. 2004. Biologi 3A Untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Erlangga.
Akhyar, Moh. Salman. 2003. Biologi Untuk SMU Kelas III. Bandung: Grafindo Media Pratama.

Kamis, 14 Agustus 2008

Pengaruh Cahaya Terhadap Pertumbuhan Biji Kacang Hijau

PENGARUH CAHAYA TERHADAP PERTUMBUHAN BIJI KACANG HIJAU
Latar Belakang
Biji-bijian dari banyak spesies tidak akan berkecambah pada keadaan gelap, biji-biji itu memerlukan rangsangan cahaya. Karena itu kelihatannya perkecambahan yang dikendalikan cahaya merupakan satu adaptasi tanaman yang tidak toleran terhadap penaungan. Cahaya sendiri memiliki suatu intensitas, kerapatan pengaliran atau intensitas menunjukkan pengaruh primernya terhadap fotosintesis dan pengaruh sekundernya pada morfogenetika pada intensitas rendah, tetapi sebagian memerlukan energi yang lebih besar (Mancinelli dan Rabino, 1987). Ekologi tanaman dalam kaitannya dengan intensitas cahaya diatur oleh dua hal yaitu :
  • Penempatan daun dalam posisi dimana akan diterima intersepsi cahaya maksimum. Berarti diatas kanopi dan didalam komunitas yang kompleks sebagian besar daun tesebut tidak dapat mencapainya. Karena itu sebagian besar dari daun akan berada pada intensitas cahaya yang kurang dari yang dibutuhkan.
  • Fotosintesis dimaksimumkan untuk energi yang diterima, dengan anggapan keadaan ini menjadi dibawah titik jenuh cahaya untuk fotosintesis normal, sehingga tetap dalam kesinambungan neto karbon yang positif (pengikatan CO2 untuk fotosintesis lebih besar daripada jumlah yang dikeluarkan pada respirasi dan hasil karbohidrat). Sehelai daun yang berada pada keseimbangan C yang negative akan memerlukan gula yang diambil dari sisa tanaman dan akan mengurangi ketegaran secara menyeluruh.
Adanya penyinaran sinar matahari akan menimbulkan cahaya. Sedang cahaya sangat dibutuhkan untuk :
  •             Pembentukan zat warna hijau (chlorophyll),
  •             Pertumbuhan tanaman dan kwalitas daripada produksi. Tanaman yang kurang cahaya matahari pertumbuhannya lemah, pucat dan memanjang.
Setiap jenis sayuran menghendaki syarat-syarat yang sangat berlawanan, ada suatu jenis yang menghendaki penyinaran panjang, ada pula yang pendek. Yang dimaksud penyinaran panjang ialah lebih dari 12 jam, sedang penyinaran pendek kurang dari 12 jam.
Ketersediaan cahaya bagi pertumbuhan tanaman sangat bermanfaat, karena beberapa proses dalam perkembangan tanaman dikendalikan oleh cahaya, yang antara lain adalah


~ Perkecambahan
~ Perpanjangan batang
~ Membukanya hypocotyls
~ Sistesis klorofil
           ~ Gerakan batang
           ~ Gerakan daun
           ~ Pembukaan bunga
           ~ Dormansi tunas


Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan biji kacang hijau.
Hipotesis
Cahaya berpengaruh terhadap pertumbuhan kecambah biji kacang hijau. Pemberian cahaya dapat menghambat pertumbuhan kecambah tetapi, daun akan berkembang baik dan berwarna hijau.
Variabel-Variabel
  • Variabel Bebas : Cahaya.
  • Variabel Terikat :Perkecambahan biji kacang hijau, yang salah satu indikatornya adalah tinggi kecambah kacang hijau dan berkembangnya daun.
  • Variabel Kontrol : Kapas, air, kualitas biji kacang hijau, kelembapan, dan suhu, semuanya dibuat sama.
Alat dan Bahan
  • 2 buah gelas aqua,
  • Kapas secukupnya,
  • Mistar,
  • Alat tulis,
  • Kertas label,
  • Kamera,
  • Biji kacang hijau,
  • Air secukupnya.
             Langkah Kerja
  1. Rendam biji kacang hijau yang berkualitas baik selama 24 jam.
  2. Siapkan 2 buah gelas aqua.
  3. Masukkan kapas basah secukupnya ke dalam masing-masing gelas aqua.
  4. Masukkan 5 biji kacang hijau ke dalam masing-masing gelas aqua.
  5. Beri label pada masing-masing gelas aqua tersebut yaitu, “GELAP” dan “TERANG”.
  6. Letakkan 2 gelas aqua tersebut pada kondisi lingkungan yang berbeda yaitu di tempat gelap dan terang.
  7. Setelah 1 hari amati perkembangannya.
  8. Ukur panjang batang, jumlah daun, dan panjang daun yang terbentuk (dalam cm) dengan menggunakan mistar.
  9. Catat hasil perkembangan tumbuhan biji kacang hijau tersebut selama 7 hari berturut-turut dan amati perkembangannya.
Data
Hari Ke -
Panjang Batang(cm)
Jumlah Daun
Panjang Daun(cm)

Gelap
Terang
Gelap
Terang
Gelap
Terang
1.
-
-
-
-
-
-
2.
1,4
1,2
-
-
-
-
3.
2,4
2,1
-
-
-
-
4.
5
3,8
-
2
-
2
5.
7
6
-
2
-
2,3
6.
12,1
9
2
2
0,2
2,8
7.
17,3
12
2
2
0,3
3,8
            Analisis Data
  1. Tanaman kacang hijau yang tumbuh di tempat gelap dan terang sama-sama tumbuh pada hari ke-2 tetapi, pada tanaman kacang hijau yang tumbuh di tempat yang gelap, lebih tinggi daripada kacang hijau yang tumbuh di tempat terang (Gelap = 1,4 cm, Terang = 1,2 cm).
  2. Pada hari ke-4 daun telah muncul pada tanaman yang tumbuh di tempat terang, dengan jumlah daun 2 dan panjangnya 2 cm. Sedangkan, tanaman yang berada di tempat gelap daunnya masih belum tumbuh.
  3. Pada hari ke-6 daun telah muncul pada tanaman yang tumbuh di tempat gelap, tetapi warnanya berbeda dengan tanaman yang berada di tempat yang terang. Di tempat yang terang, daunnya berwarna hijau segar, tetapi yang berada di tempat gelap berwarna kuning.
             Kesimpulan
  1. Cahaya digunakan tanaman untuk proses fotosintesis.
  2. Tanaman yang kurang cahaya (ditanam di area gelap) batangnya lebih panjang, hal ini karena tanaman berusaha mencari cahaya untuk keperluan fotosintesis.
  3. Tanaman yang cukup cahaya terlihat lebih sehat dan segar.
  4. Daun tanaman-tanaman yang kurang cahaya jauh lebih kecil dan kusam kekuningan dibandingkan dengan tanaman yang cukup cahaya. Daun tanaman yang cukup cahaya lebih lebar, hijau segar.
  5. Pada tanaman yang berada di tempat yang gelap hormon auksin bekerja lebih aktif daripada tanaman yang terkena cahaya, sehingga tanaman yang berada di tempat yang gelap terjadi pemanjangan sel. Di tempat yang terang hormon auksin mudah rusak oleh intensitas cahaya yang tinggi.
  6. Di tempat yang terang pertumbuhan tanaman menjadi terhambat, dan di tempat yang gelap terjadi etolasi (pemanjangan diujung melekuk).
  7. Jadi, hormon mempercepat pertumbuhan batang dan cahaya menghambat pertumbuhan.
              Daftar Pustaka
                        Syamsuri, Istamar. 2004. Biologi Untuk SMA Kelas X. Jakarta:Erlangga.
AAK. 1992. Petunjuk Praktis Bertanam Sayuran.Yogyakarta : KANISIUS.
Heddy, Suwasono.1996. Hormon Tumbuhan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Purbayanti E.D dan Sri Andani. 1991. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
www. google.com